Banyak yang bilang, berbicara dalam bahasa Inggris bukan dengan orang asing cuma gaya-gayaan saja. Mungkin ada benarnya, tapi untuk K rasanya tidak demikian.

Sejak mulai aktif berbicara, sebenarnya kami tidak pernah mengarahkan dan mengajari K bahasa Inggris. Apalagi, di masa-masa awal K mulai bicara, dia banyak berkomunikasi dengan Bu Jun. Sehingga beberapa kalimat pendek dalam bahasa Indonesialah yang pertama kali ia kuasai. Dengan logat Betawi ala Bu Jun pula!

Tapi sejak K mulai kami izinkan menonton televisi, maka K mulai mendengar banyak kata, kalimat atau percakapan dalam bahasa Inggris. Serial anak-anak yang paling dia sukai adalah Peppa Pig, Blaze and the Monster Machines, Paw Patrol, PJ Masks, Numberblocks, dan pernah juga menggemari We Bare Bears, serta beberapa channel di Youtube, seperti Blippi.

Dari situ, K mulai mengenal bahasa Inggris. Kami tidak pernah mengajarinya.

Sialnya, atau justru beruntungnya?, K adalah peniru yang ulung. Apa yang dia lihat, dia perhatikan, kemudian dia tiru. Begitu pula bahasa Inggris. Dia mulai mengenal beberapa kata dan kalimat pendek, memperhatikan apa arti kata itu, dan mulai menggunakan kata-kata itu dalam rangkaian kalimat yang dia bikin sendiri.

Kalimat yang salah secara gramatikal, tidak selalu kami koreksi. Dalam menyampaikan sesuatu, K masih banyak sekali salah atau kurang tepat menerapkan grammar. Tentu kami tak ingin menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengoreksinya. Kami tetap mengutamakan komunikasi yang mengalir meskipun dengan susunan kalimat yang tidak benar.

Misalnya, K masih sering salah kapan menggunakan I am, I do, I did, dsb. Kadang malah kalimatnya dimulai dengan I doesn’t. Sesekali kami koreksi, tapi itu sangat jarang. Kami tak ingin dia merasa jenuh bila kami terlalu sering mengoreksinya, daripada merespon atau menjawab apa yang dia inginkan. Bisa jadi dia malah tidak percaya diri untuk berbicara kalau sering dikoreksi.

Tapi, masalahnya adalah…

Lama-lama K jadi lebih terbiasa dan cepat mengerti bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Misalnya dalam belajar angka, K lebih cepat mengingat angka 1-100 dalam bahasa Inggris. Sementara dalam bahasa Indonesia, dia masih agak berpikir keras mengingat-ingat angka 1-15. Itu termasuk juga saat dia belajar penjumlahan dan pengurangan.

Begitu pula saat belajar alfabet. Dia dengan mudah mengingat A sampai Z bila menggunakan bahasa Inggris.

Sekali lagi kami tidak pernah mengajari. Semua terjadi begitu saja setelah ia mengawali dengan pertanyaan sakti, “Bapak (atau) ibu, what is this?

Saya dan Rebecca juga masih tetap berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. K juga pasti mendengar kami. Tapi seringkali dia meresponnya tetap dalam bahasa Inggris. Hanya beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang cukup sering dia gunakan. Misalnya iya, maaf, atau oh gitu.

Kesulitan akhirnya mulai muncul saat K kami daftarkan kelas PAUD online. Bahasa pengantar di kelas PAUD adalah bahasa Indonesia. Di kelas, K tidak terlalu interaktif. Dia lebih sering diam, atau menjawab dalam bahasa Inggris. Saat diminta untuk menjawab dalam bahasa Indonesia, K memilih diam. Nampaknya ia merasa kurang nyaman.

Berbeda saat K mengikuti kelas bahasa Inggris. Dia nampak ceria dan banyak bicara, padahal microphone dalam keadaan mute. Kami akhirnya sengaja mendaftarkan K untuk mengikuti kelas bahasa Inggris untuk mengarahkan minatnya itu ke arah yang lebih tepat. Setidaknya ia akan terbiasa menggunakan susunan kalimat yang lebih baik. Meskipun materi pelajaran belum menyentuh grammar.

Bukan gaya-gayaan.

Tapi saya yakin, K tidak bermaksud gaya-gayaan. Dia hanya memilih apa yang nyaman bagi dirinya. Untuk urusan ini, kami tidak akan melarang atau memaksanya. Saya hanya berharap dia juga bisa belajar bahasa Indonesia dari apa yang dia dengar dari saya dan Rebecca sehari-hari di rumah. Bagaimana pun, bahasa Indonesia adalah bahasa utama dalam komunikasi dengan lingkungan sekitar.

Sekaligus kami ingin berbagi pengalaman kepada para orang tua. Menonton tivi tidak selalu berdampak buruk, selama kita tahu dan memilihkan apa yang boleh dia tonton. Apalagi di masa pandemi, stay at home, maka tivi menjadi salah satu teman belajar anak. Tetap harus diawasi, misalnya saat K minta menonton SpongeBob SquarePants, kami mengawasi penuh karena seringkali menampilkan adegan yang tidak boleh dia tiru.

Tidak ada salahnya bukan, kalau dari menonton tivi, anak jadi bisa belajar bahasa Inggris?

Saya sendiri bukan pengguna bahasa Inggris yang aktif. Hanya pada saat di kantor saya dibutuhkan berbahasa Inggris, itu pun tidak setiap hari. Tapi dengan K mulai aktif berbahasa Inggris, mau tidak mau saya belajar lagi dan membiasakan diri berbahasa Inggris lebih sering.

Jangan lupa pula bahwa setiap anak berbeda. Untuk minat dan hobi, kami tidak akan memaksa K mengikuti apa yang kami harapkan. Biar dia yang memilih sendiri, termasuk untuk urusan bahasa.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Kayika Pushandaka