Blog Ini Untuk Apa?

Kayika, anak bapak tercinta.

Mungkin suatu hari nanti kamu akan bertanya, blog ini untuk apa? Adakah manfaatnya?

Nak, maafkan bapak ya. Sampai saat bapak menuliskan cerita ini, bapak belum bisa memberimu banyak hal.

Bapak belum bisa membelikanmu pakaian yang banyak dan bagus. Beruntung sampai saat ini ibumu selalu rajin untuk mencuci pakaianmu sehingga kamu tidak pernah kekurangan pakaian.

Bapak juga belum bisa mempekerjakan babysitter yang andal dan profesional. Kamu hanya punya seorang ibu yang rajin dan setia merawatmu.

Bapak juga sampai sekarang belum juga membelikanmu stroller, yang mungkin akan membuatmu terlihat keren saat jalan-jalan atau ke gereja. Semoga kamu tidak keberatan hanya berada dalam pelukan bapak saat kita bepergian.

Sementara ibumu memiliki air susu yang berlimpah untuk diberikannya kepadamu, apa yang bisa bapak berikan?

Selain dendang lagu perjuangan untuk menghibur dan mengantarmu tidur, maka cuma blog inilah yang bisa bapak berikan.

***

Anak bapak yang baik,,

Blog ini bapak ciptakan untuk mencatat sejarahmu. Sejarah tentang anak tampan kiriman Tuhan kepada bapak.

Memilikimu adalah suatu kebahagiaan dan kebanggaan. Bapak ingin mengabadikan itu semua dengan sebuah tulisan, atau mungkin ribuan tulisan.

Bapak bisa saja mengabadikanmu dalam sebuah foto, tapi bapak tetap akan menulis.

Dengan menulis, bapak bisa menceritakan banyak hal tentangmu dan kepadamu. Juga cerita tentang ibumu dan cintanya kepadamu yang jauh lebih mahal nilainya daripada barang apapun yang akan kamu miliki nanti.

Blog inilah yang akan menjadi tempat untukmu mengingat kembali cerita-cerita itu.

***

Nak, kalau kamu sudah besar nanti, bapak berharap kamu akan terus menuliskan banyak kisah di blog ini. Tidak perlu dengan tulisan yang indah atau tulisan yang bernilai mahal, tapi cukup dengan tulisan yang baik.

Semoga setiap tulisan di blog ini akan mengabadikan segala cerita baik tentang Tuhanmu, tentang ibumu, tentangmu dan banyak hal baik yang akan terjadi dalam hidupmu.

***

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Pramoedya Ananta Toer.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2017-2018 Kayika Pushandaka