Kalau ada umur panjang, semoga bisa bertemu kembali. Terima kasih, Bu Jun.

Sejak sekitar akhir November 2017, saya dan Rebecca menerima orang asing masuk dan menjadi bagian dari keluarga kami. Namanya Juniah, kami memanggilnya Bu Jun.

Ia datang untuk mengemban tugas yang sangat mulia, yaitu menjaga Kayika, alias K. Waktu itu K baru berumur tiga bulan. Sedangkan Rebecca sudah harus kembali ke kantor setelah menghabiskan masa cuti melahirkan.

Saya sebenarnya masih sulit mempercayakan kesehatan dan keselamatan K kepada orang asing. Apalagi secara penampilan, dia terlihat seperti bukan orang yang ramah. Maka kami memutuskan harus ada pengawas di rumah, yaitu omanya K. Ini juga sesuai saran dokter anak agar bayi dan pengasuhnya tidak berdua saja di rumah.

Bu Jun datang setiap pagi di hari kerja, sebelum kami berangkat ke kantor. Pulang di sore hari setelah kami tiba di rumah. Rumahnya tidak jauh dari apartemen yang kami huni. Kami meliburkannya di setiap hari Sabtu dan Minggu karena kami ingin punya waktu bertiga hanya bersama K. Begitu pula saat hari libur lainnya, dia tak perlu datang.

Maka petualangan K bersama Bu Jun pun dimulai hari itu.

Saya sendiri tak banyak berkomunikasi dengan Bu Jun. Segala urusan berhubungan dengan K, dia akan laporkan kepada Rebecca. Laporan itu kami diskusikan yang keputusannya akan diteruskan kembali kepadanya. Mungkin terlihat kurang efektif, tapi sejauh ini tidak ada masalah.

Walaupun begitu, saya juga tetap memperhatikan bagaimana Bu Jun menjaga K, ditambah dengan cerita dan laporan dari Rebecca.

Bu Jun memiliki dua anak yang sudah dewasa, juga seorang nenek dari satu cucu perempuan yang umurnya tidak beda jauh dengan K. Jadi kalau diukur dari pengalamannya, kami masih kalah darinya. Tapi dia tidak pernah menggurui kami. Dia tidak memaksakan caranya dalam membesarkan anak-anaknya kepada kami. Sesekali dia memberi saran dan usul, tapi tetap menyerahkan keputusannya kepada kami.

Selama bersamanya, hampir tidak pernah ada masalah dengan K.

Bahkan Bu Jun juga banyak andil dalam perkembangan dan pertumbuhan K. Misalnya dalam melatih K bicara. Dulu pernah ada suatu masa, K bicara dengan logat Betawi yang kental. Seperti saat bermain bola bersama saya, bolanya mental agak jauh lalu K berujar, “Jauh amat!”

Meskipun tidak kami harapkan, tapi lucu kalau mengingat bayi K bicara dengan logat Betawi seperti itu.

Bahkan kalau boleh jujur, Bu Jun adalah yang orang pertama yang melihat K mulai melangkahkan kaki mungilnya. Dia juga mengajari K tradisi cium tangan kepada orang yang lebih tua walaupun K malah mencium semua tangan yang ia jabat, termasuk tangan bayi lain sekalipun.

K juga lebih teratur bila bersama Bu Jun. Selalu bangun pagi di waktu yang tepat, mandi dan makan tanpa drama, serta tidur siang tanpa perlu negosiasi berkepanjangan. Berbeda bila dengan kami, orang tuanya, K selalu berargumen. Misalnya bila waktunya tidur siang tiba, kami masih butuh beberapa lama untuk negosiasi berapa menit lagi harus bermain sebelum tidur.

Pandemi mengubah semua rencana.

Sejak pandemi datang, segala hal terkait K harus menyesuaikan. Pertama, tentu tradisi cium tangan saya hentikan.

Kedua, kehadiran Bu Jun di rumah juga terpaksa kami kurangi, terutama saat awal-awal pandemi sejak Maret sampai dengan Juni 2020, ia sama sekali tidak kami izinkan datang ke rumah. Selain karena kami juga bekerja dari rumah secara penuh, juga untuk mengurangi peluang masuknya virus Corona ke dalam rumah yang mungkin menempel di pakaian atau tasnya.

Sebaliknya, kami juga tidak ingin membuatnya harus sering bepergian ke luar rumah yang berpotensi membuatnya lelah dan sakit.

Selama Bu Jun kami rumahkan, kami terus berusaha memberikan haknya secara penuh. Kami tidak pernah berpikir memberi gaji buta kepadanya. Kami menganggapnya sama saja seperti akhir pekan atau hari libur di saat kami berada di rumah bersama K, maka ia pun libur. Meskipun liburnya kali ini sampai berbulan-bulan.

Bu Jun baru mulai datang lagi saat sistem bekerja dari rumah dikurangi sedikit demi sedikit, menyesuaikan situasi dan kondisi di Jakarta. Maka saat kami harus kembali bekerja di kantor. Bu Jun kami minta datang kembali. Itu pun dalam sepekan ia hanya datang dua atau tiga hari saja.

Aturan dan protokol kesehatan kami berlakukan lebih ketat. Misalnya, saat tiba di rumah, Bu Jun harus mandi dulu sebelum memegang K, dan tetap memakai masker sampai pulang nanti.

Tidak ada kesulitan yang kami alami dengan periode ini. Bu Jun dan K cepat kembali beradaptasi di rumah tanpa kami, kecuali untuk urusan komunikasi di antara keduanya karena K saat itu mulai aktif berbicara dalam bahasa Inggris yang sulit dimengerti Bu Jun. Situasi itu membuat K beberapa kali kehabisan akal dan marah untuk menjelaskan maunya kepada Bu Jun. Beruntung Bu Jun tetap sabar menghadapi kelakuan K.

Ternyata, semakin lama situasi di Jakarta semakin tak menentu. Kasus Corona naik dan turun, kebijakan terus berubah-ubah. Maka akhirnya kami sekali lagi merumahkan Bu Jun sejak November 2020.

Kondisi lebih berat di awal 2021 karena beberapa kebijakan pemerintah mempengaruhi penghasilan kami. Terpaksa kami sampaikan keadaan tersebut kepada Bu Jun, karena mempengaruhi juga kemampuan kami memenuhi kewajiban kepadanya.

Bu Jun mengerti.

Tiba waktunya untuk berpisah.

Selama periode kedua tanpa Bu Jun, kami lebih banyak mengerjakan sendiri segala keperluan K. Sebenarnya kami bisa melakukannya, tapi dengan sistem bekerja kantoran dari rumah, semuanya jadi tercampur aduk. Bahkan tidak jarang, kepentingan K harus kami kesampingkan dan minta bantuan oma dan tantenya K untuk menanganinya.

Kebetulan, mereka berdua sudah pindah secara permanen ke apartemen yang sama dengan kami untuk memudahkan kami saling mengawasi dan menjaga.

Beberapa bulan lamanya kami masih terus mempertahankan Bu Jun. Berharap ia tetap sabar menunggu di rumah, tidak kemana-mana, sampai situasi kembali membaik. Tapi nampaknya situasi tak menentu ini belum akan terlihat ujungnya dalam waktu dekat. Apalagi kami juga tidak ingin menghambatnya untuk mendapat pekerjaan lain yang mungkin lebih baik.

Kami pun mulai berpikir yang terburuk.

1 April 2021, kami memutuskan untuk tidak lagi memintanya datang ke rumah secara permanen. Awalnya saya pikir mudah bagi saya, tapi saat melihat K mengirimkan pesan suara kepada Bu Jun, “Jangan sedih ya, K sayang Bu Jun” rasa haru hampir membuat air mata saya mengalir di pipi.

Terima kasih Bu Jun, atas semua kebaikannya selama ini. Mohon maaf bila kami tidak cukup baik untuk Bu Jun. Mohon dimaafkan pula kesalahan K.

Semoga Bu Jun selalu dalam kedaan sehat dan suatu hari kami boleh bertemu lagi dengannya.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2021 Kayika Pushandaka