Kalimat Pertamamu

Saat bapak menulis ini, sudah 20 bulan usiamu.

Pertumbuhanmu berjalan baik dan normal. Tidak ada hambatan berarti, baik mental maupun fisikmu.

Puji Tuhan, semua karena perkenan-Nya.

***

Salah satu perkembangan yang kamu alami adalah perbendaharaan kata dalam kamusmu sudah semakin banyak. Meskipun belum sempurna dalam pengucapannya.

Banyak kata yang hanya terucap pada suku kata terakhirnya saja. Misalnya pu untuk lampu, hon untuk pohon, di untuk mandi, dsb.

Juga u untuk mau. Disertai anggukan kepala.

Tapi ada juga beberapa kata yang telah kamu ucapkan dengan lengkap dan jelas. Seperti bapak, dan yang baru saja kamu bisa ucapkan sebulan belakangan, ibu.

Seminggu kemarin, kamu dan ibu pergi ke Bali. Menemani bapak yang juga ke Bali untuk menjalani tugas kantor.

Di akhir pekan, kita bertiga bertemu dan menginap di rumah om Alit dan aunty Dyah. Kamu bertemu sepupu-sepupumu, Adya dan Arya, untuk pertama kalinya.

Umurmu dan Arya berselisih beberapa bulan. Arya lebih tua.

Arya sudah lancar berkomunikasi dengan kita semua. Sangat menyenangkan mendengarnya.

Bapak membayangkan, dengan seizin Tuhan tentu saja, sebentar lagi kamu juga akan bisa seperti Arya. Berceloteh panjang, menjelaskan maumu, menceritakan pengalamanmu, dsb.

Sebenarnya kita sudah bisa berkomunikasi. Kamu hanya belum bisa mengucapkan satu kalimat utuh, yang paling sederhana sekalipun.

Kamu hanya bisa berucap, dong, untuk gendong, sambil merentangkan tanganmu, meminta bapak atau ibu menggendongmu.

Atau yang lebih panjang adalah, “Ibu, nena..”

Biasanya kamu ucapkan saat kamu meminta ibu untuk menyusuimu. Nena adalah kode khusus antara kamu dan ibu untuk nenen.

Biasanya ibu akan meminta pembayaran di muka berupa sebuah kecupan darimu sebelum memulai ritual nena.

“Ciumnya mana?” begitu ibu selalu berkata.

***

Tadi malam, sebelum kamu minta nena, kamu berkata, “Ibu, cium mana?”

Kemudian bapak berpikir, apa itu akan menjadi kalimat pertamamu?

Semoga saja. Dan akan segera menyusul kalimat-kalimatmu selanjutnya.

Sehingga kita bisa segera berkomunikasi lebih baik, bertukar ide dan pendapat. Atau mungkin beradu logika.

Bapak dan ibu akan sabar menantikan itu semua.

Bertumbuhlah terus nak. Sampai nanti tiba saatnya kamu akan berbuah. Buah kebaikan.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2019 Kayika Pushandaka