“Koinnya Sama!”

Suatu siang, kamu membuka mainan celengan yang sudah rusak. Membuat uang koin yang berada di dalamnya berserakan di lantai.

Sambil berusaha mengajakmu mengumpulkan koin-koin itu kembali, bapak juga mengasah ingatanmu akan angka. Koin yang berserakan di lantai ada pecahan 100, 200 dan 500 rupiah.

Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelumnya, kamu sudah mengenal angka. Kamu sudah bisa menyebut secara berurutan angka 1 sampai dengan 20. Kamu juga sudah mengenal beberapa bentuk angka.

Tapi kamu masih sering tertukar antara angka 2 dan 5. Begitu juga antara angka 6 dan 9.

Maka bapak mulai permainan. “Kay, ayo kumpulin koin yang sama angkanya”

Bapak memberi contoh mengumpulkan koin pecahan 100. “Lihat, koinnya sama-sama ada angka 1, kan? Ayo cari lagi yang lain”

Maka kamu dengan antusias mengumpulkan semua koin pecahan 100, karena memiliki kesamaan, berangka 1.

Begitu seterusnya sampai koin 200 dan 500 terkumpul sesuai dengan kesamaan angkanya dan memasukkan kembali koin-koin itu ke dalam celengan.

***

Sore di hari yang sama.

Kamu menghampiri bapak yang sedang menonton tivi bersama ibu.

“Koinnya sama! Koinnya sama!” katamu sambil menggenggam beberapa uang logam di tangan mungilmu.

Bapak sangat bersemangat karena kamu memainkan lagi permainan yang bapak ajarkan. Sendirian.

Lalu kamu menyerahkan koin di tanganmu kepada bapak.

Tapi setelah bapak lihat, kok koinnya tercampur antara koin 100, 200 dan 500? Samanya dimana?

Belum sempat bapak bertanya untuk mendapat penjelasanmu, kamu menyampaikan dengan sangat jelas.

“Sama nolnya”

Maka kami pun tertawa lepas mendengar penjelasanmu, sambil melihatmu menari merayakan keberhasilanmu mengumpulkan koin yang berangka sama, nol.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2019 Kayika Pushandaka
[Total: 1   Average: 5/5]