Meskipun manfaat ASI untuk anak sangat besar, tapi menyapih juga penting dilakukan di waktu yang tepat dalam pertumbuhan anak.

Dibandingkan anak-anak lain, mungkin kami agak terlambat menyapih K.

Pertama kali kami mencoba menyapih K adalah pada saat K berusia 28 bulan. Kami bilang, “Kamu sudah besar, seharusnya sudah tidak nena lagi”

Nena adalah sebutan bagi K untuk mengganti kata nenen.

Kami juga mencoba memberi susu formula rasa coklat sebelum tidur agar K tidak lapar saat tengah malam. Biasanya, saat K terjaga karena lapar, solusinya adalah nena.

Tapi usaha pertama ini masih gagal, karena keesokan harinya kondisi kesehatan kami semua kurang baik. Selain itu ternyata K juga tidak terlalu suka minum sufor.

Penundaan menyapih itu ternyata sampai lima bulan lamanya.

Usaha selanjutnya adalah saat K berumur 33 bulan. Kali ini tantangannya lebih besar, karena saat itu sudah pandemi Covid-19 dan saya menjalani work from home, dimana pada dua bulan pertama, saya berada di rumah secara penuh.

Itu berarti K bisa nena setiap saat.

Tapi kami sepakat, menyapih tidak boleh ditunda lagi.

Selama 2 hari awal kami terus menyampaikan berulang-ulang, bahwa sudah waktunya K berpisah dengan nena. Kali ini menjadi lebih sulit lagi, karena K tegas menolak.

Hingga suatu malam di tanggal 30 Mei 2020, K minta bermain laptop karena melihat saya menyelesaikan tugas kantor menggunakan laptop.

Mas Agung, suami saya, kemudian membuka aplikasi Google Translate untuk mengenalkan kata-kata baru dalam bahasa Inggris kepada K. Dia aktifkan voice mode sebab K belum bisa membaca.

Tiba-tiba terlintas di pikiran kami untuk memasukkan beberapa kata dan kalimat yang berisi imbauan dan bujukan untuk menyapih, berpisah dengan nena.

Misalnya, “Big child does not nena anymore” akan diterjemahkan menjadi “anak besar tidak nena lagi”

Mendengar suara wanita yang keluar dari laptop membuat K kaget. Mungkin K berpikir, “Siapa nih ikut campur urusan nena?”

Tapi karena K anak yang baik, suara Google Translator pun dia jawab, “Iya, aunty.”

Kami memastikan lagi kepada K, bahwa ia benar-benar siap untuk disapih. K menjawab, “K sudah besar, nggak nena lagi Bu”

Sejak malam itu, menjelang tidur, K sama sekali tidak minta nena. Walaupun jadi butuh waktu yang lebih lama untuk segera tertidur, tapi K berhasil.

Padahal sehari sebelumnya, kata kunci untuk membuatnya lebih mudah tidur adalah, “Ibu, K mau nena

Selama sebulan K benar-benar berusaha tidur tanpa nena, meskipun kadang kami masih harus mengingatkannya lagi di saat ia minta nena.

Sekarang, K sudah tidak nena lagi. Kata kunci “K mau nena” sudah hilang, tak pernah kami dengar lagi.

***

Kami tahu menyapih anak yang masih aktif menyusu, termasuk K, pastilah sangat berat. Menyusu adalah hal pertama yang ia kenal dan pelajari sebelum mengenal makanan dan minuman yang lain, tapi ia tetap mau berusaha untuk meninggalkannya.

K menyapih dirinya sendiri, tanpa air mata.

Beberapa kali di awal penyapihan, kami melihat K sakaw. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri sekaligus melawan ketergantungannya kepada nena. Kami seringkali merasa tak tega tapi kami juga harus bisa sekuat K.

Khususnya saya.

Menyusui anak tidak cuma bermanfaat bagi anak, tapi juga bagi ibunya. Untuk saya pribadi, menyusui K cukup ampuh mengurangi stres.

Selain itu, menyusui K selama 33 bulan adalah pengalaman belajar terbaik dalam hidup saya. Dengan menyusuinya, saya bisa mengenal K jauh lebih dekat dan teliti. Saya bisa melihat wajah dan tubuhnya lebih jelas.

Bertatapan mata sangat dalam dengannya cuma bisa terjadi saat K nena di pelukan saya. Sejujurnya saya mungkin lebih sedih daripada K saat menyapihnya.

Tapi memang begitulah kisah hidup seorang ibu, suatu hari akan ditinggal pergi oleh anak lelakinya untuk menjalani hidupnya sendiri. Saat ini, K mengawali langkah itu dengan meninggalkan nenanya.

Semoga ASI yang diberikan Tuhan selama ini kepada K melalui saya, cukup menjadi bekal awal baginya menjalani tumbuh kembang fisik dan mentalnya di hari-hari selanjutnya.

“Sehatlah K dalam umurmu yang panjang. Ibu mengasihimu”

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Kayika Pushandaka