Hai Kayika, semoga Tuhan selalu memberkatimu.

Kali ini bapak ingin bercerita tentang kisah haru yang bapak terima dari ibumu tentang seorang temannya.

Kemarin, Kamis 19 April 2018, bapak mendengar kabar duka dari salah seorang teman ibumu di kantor, bahwa bayinya yang baru berumur 1 hari harus pulang kembali kepada Tuhan.

Kabar yang bapak dengar, kondisi bayinya memang sudah mengkhawatirkan sejak dalam kandungan karena kurangnya asupan gizi yang diperoleh disebabkan tali pusarnya meliliti tubuh bayi.

Kondisi bayinya mulai tidak baik sejak usia kandungan minggu ke-32. Akhirnya si bayi dilahirkan melalui operasi caesar di minggu ke-36 untuk menyelamatkannya.

Bapak sedih sekali mendengar kabar itu. Begitu pula ibumu.

Bapak tidak sanggup membayangkan bagaimana sedihnya teman ibumu menerima kenyataan ini. Bayi pertama yang dia tunggu, hanya bisa dia miliki selama sehari saja.

Iya, secepat itu.

***

Tapi nak, dari kejadian itu bapak justru melihat ada cinta kasih yang sangat besar di antara mereka berdua. Antara ibu dan bayinya.

Sama seperti cinta antara kamu dan ibumu.

Bapak tidak akan pernah menyangsikan seberapa besar cinta seorang ibu kepada bayinya sejak di dalam kandungan. Sebab bapak telah melihat sendiri, bagaimana ibumu menyerahkan seluruh yang dia miliki, demi melihatmu lahir dengan selamat dan sehat.

Maka bapak yakin bahwa teman ibumu juga melakukan hal yang sama untuk bayinya.

Sebaliknya, bapak juga melihat ada cinta yang besar dari si bayi kepada ibunya.

Bapak membayangkan bagaimana perjuangan si bayi untuk bertahan hidup selama 4 minggu terakhir di dalam kandungan tanpa asupan makanan yang memadai.

Bapak yakin, ada cinta yang sangat besar di dalam sana yang membuat si bayi bisa bertahan hidup dengan segala keterbatasan. Berjuang untuk bisa menemui ibunya, sosok yang juga telah berjuang  hebat selama 36 minggu demi bayinya.

Padahal bisa saja si bayi menyerah sejak dalam kandungan. Tapi si bayi tidak mau seperti itu. Tuhan juga sepertinya tidak mau mereka bertemu seperti itu.

Walaupun sangat sedih, bapak yakin mereka akan saling tersenyum karena telah berhasil bersama-sama melewati rintangan yang berat hanya untuk bertemu beberapa jam saja.

Si bayi akan tersenyum bangga di surga karena memiliki seorang ibu yang tegar dan kuat. Sementara ibunya, suatu hari nanti, akan merasakan kebanggaan yang sama karena telah melahirkan seorang bayi yang luar biasa tangguh.

Bayi yang terus berjuang di dalam kandungan, hanya untuk menyampaikan cinta dan kasih Tuhan di bumi kepada ibunya. Walaupun waktunya cuma sebentar tapi cinta itu akan bertahan seumur hidupnya.

Semua itu bisa terjadi hanya karena cinta dan kasih yang sangat besar di antara mereka. Cinta itu akan selalu menjadi hadiah termewah dari Tuhan kepada mereka.

Semoga Tuhan akan memberikan kehamilan dan kelahiran yang lebih sehat dan kuat kepada teman ibumu di masa mendatang. Juga kepada setiap ibu yang pernah merasakan kehilangan seperti itu.

***

Jujur nak, salah satu ketakutan terbesar bapak saat ibumu mengandungmu adalah kesehatan dan keselamatanmu di dalam kandungan.

Bapak tidak bisa menjangkaumu di sana. Bahkan pula ibumu.

Hanya cinta dan kasih Tuhan yang bisa bersamamu di dalam sana. Hanya itu yang bapak yakini untuk menenangkan diri dan membebaskan pikiran bapak dari ketakutan.

Dan Tuhan, akan selalu berkenan untuk keselamatan kita. Tuhan tidak pernah menakdirkan hal buruk kepada kita.

Bapak yakin, rancangan Tuhan atas hidup kita adalah rancangan damai sejahtera. Bukan rancangan kecelakaan.

Maka di saat bapak mulai khawatir tentang sesuatu, bapak cukup meyakini bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita. Tuhan tidak akan pernah mencobai kita.

Dan cinta kasih Tuhan akan selalu bekerja untuk kita. Selama kita percaya bahwa selalu ada cinta-Nya yang akan menyelamatkan kita.

Tumbuhlah sehat nak, sebagaimana rancangan Tuhan atas hidupmu.

Bapak dan ibu akan selalu mencintaimu.

 

Semoga Tuhan selalu memberkati keselamatan, kesehatan dan cinta kasih kepada setiap ibu dan bayinya serta kita semuanya.
Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2018 Kayika Pushandaka