Kamis sore kemarin (14/12), kita seharusnya pergi ke dokter bertiga; bapak, ibu dan kamu. Tapi menjelang sore, terjadi perubahan rencana.

Cuma kita berdua yang ke dokter, tanpa ibumu.

Kali ini tentu berbeda dengan situasi saat kita ditinggal ibu untuk rileks di salon waktu itu [baca di sini]. Saat itu kita ditinggal di rumah, dimana segala perlengkapanmu tersedia.

Tapi kemarin kita berdua harus meninggalkan rumah.

Dengan berbekal kain gendongan, 200ml asi dalam botol dan tas besar berisi perlengkapanmu seperti seperangkat baju ganti, pampers, kapas, alas ganti, tisu basah, dll., maka berangkatlah kita.

Beruntung, sebelum berangkat, oma sudah memberimu asi botol yang cukup sehingga saat mulai perjalanan ke dokter, kamu sudah terlelap di dalam gendongan.

Tiba di rumah sakit, tempat dokter yang kita tuju membuka praktik, kamu terbangun.

Bapak sengaja menghentikan langkah untuk sekadar menyapamu dan menjelaskan kita sedang berada dimana.

Setelah kamu membalas sapaan bapak dengan sebuah senyuman, barulah bapak melanjutkan langkah menuju meja pendaftaran.

“Sendirian saja, pak?” tanya petugas pendaftaran setelah bapak menyampaikan maksud kedatangan kita.

“Berdua mbak, sama Kay” jawab bapak sambil menunjukkan muka bulatmu ke petugas. Bapak tidak bermaksud bercanda tapi si mbak petugas tersenyum.

“Ibunya kemana?” tanyanya lagi.

Oh, jadi itu maksud pertanyaannya. Maka bapak jawab bahwa ibu sedang berada di kantor.

Setelah urusan di meja pendaftaran selesai, kita menuju ruang dokter. Tapi sebelum menemui dokter, kita masih harus melapor ke meja suster di depan ruang dokter.

Saat kamu harus ditimbang, bapak harus melepaskanmu dari gendongan dan pelukan bapak. Melihat bapak agak ribet melepaskan kain gendongan, suster bertanya, “Bapak sendirian?”

Setelah proses menimbang selesai, dilanjutkan dengan beberapa menit menunggu, maka masuklah kita ke ruang kerja dokter.

Ibu dokter seperti agak kaget melihat kita datang cuma berdua. Pertanyaan yang sama muncul lagi, “Cuma sendirian, pak?”

Keluar dari ruang kerja dokter, kita menuju apotek.

Sambil menggendongmu dengan lengan tangan kiri, bapak juga harus menggantungkan tali tas perlengkapanmu di bahu kanan, memegang botol asi dan handphone sekaligus di tangan kiri, serta menggenggam catatan resep dokter di tangan kanan.

Ribet memang.

Melihat itu, petugas apotek bertanya, “Kok sendirian, pak?”

Begitulah.

Sampai akhirnya saat tiba waktunya kita pulang, datanglah menyusul pahlawan kita bersama, yaitu ibumu!

Lalu kita pulang bertiga.

***

Nak,, ternyata bagi banyak orang, kalau kita pergi berdua nampak ada yang kurang. Ada bapak dan kamu, ternyata tidak cukup lengkap bagi beberapa orang yang melihat kita kemarin.

Mereka menanyakan ibumu ada dimana.

Tapi di saat kamu pergi berdua dengan ibu, sepertinya tidak akan ada yang menanyakan bapak ada dimana.

Mungkin menurut pandangan mereka, bayi seharusnya bersama ibunya. Mungkin itu pula yang membuat banyak ruang ganti bayi hanya boleh dimasuki oleh bayi dan ibunya saja, bukan bapaknya.

Padahal bapak juga bisa mengganti pampers atau pakaianmu, dengan segala prosesnya.

Tapi tidak apalah, mungkin juga pertanyaan seperti itu hanya untuk menunjukkan perhatian mereka melihat bapak agak ribet dengan segala perlengkapanmu.

Walaupun sebenarnya bapak menikmati kondisi ribet itu.

***

Terima kasih juga untukmu Kay, yang mau menikmati perjalanan berdua bersama bapak dengan banyak senyum dan celoteh riangmu.

I love you.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2017 Kayika Pushandaka