Teman dan Taman Bermain

“Halo bapak! Hai ibu!” begitu biasanya K menyambut saya dan ibunya, saat kami masuk rumah setelah seharian bekerja di kantor. Nampak jelas di wajahnya, bahwa dia begitu antusias melihat kami pulang.

“Waktunya bermain!” kadang dia juga bilang seperti itu.

Kalau boleh protes, sebenarnya saya ingin beristirahat di rumah setelah melakukan pekerjaan di kantor plus perjalanan pergi dan pulang yang tidak sebentar. Semua orang pasti ingin begitu, tapi mungkin inilah tanggung jawab menjadi orang tua dari seorang bocah laki-laki berumur 30 bulan yang aktif bermain.

Setelah mandi dan berganti pakaian, maka segala atribut pegawai kantor harus saya lepas, termasuk ponsel yang sebisa mungkin tidak saya pegang selama bersama K.

Dulu saat K masih bayi, di bawah umur dua tahun, tugas saya cuma menjadi teman bermainnya. Saya dan istri membelikan K beberapa mainan dan kami menemaninya bermain, sambil mengajari beberapa hal kepadanya.

Sekarang saya tak cuma jadi teman bermain bagi K tapi juga harus menjadi taman bermain untuknya. Dia akan merangkak, memanjat, bergelantungan, merayap bahkan berlompatan di badan saya.

Capek? Tentu saja.

Biasanya kami bermain di dalam rumah saja. Sebab saat saya dan istri tiba di rumah, hari sudah sore menjelang malam. Apalagi di tengah cuaca yang masih sering hujan, tentu tak sepenuhnya baik bermain bersama anak di luar ruangan.

Meskipun lelah, ada harga yang mungkin tak bisa dinilai dengan uang yang saya dapat dengan menjadi teman sekaligus taman bermain untuknya. Saat dia lelah dan perlu beristirahat, dia akan rebahan di atas badan saya sehingga saya bisa leluasa memeluknya.

Beberapa kecupan juga akan saya terima darinya.

Hadiah yang paling berharga dari itu semua adalah melihatnya tersenyum dan tertawa riang saat bermain bersama saya. Sangat membahagiakan dan menenangkan jiwa.

***

Tentu ada hal-hal yang harus saya perhatikan saat menjadi taman bermainnya.

Pertama masalah keamanan. Saya harus memastikan bahwa K benar-benar aman bermain di badan saya. Saya juga hanya mau bermain di atas kasur atau matras yang layak, sehingga kalau K terjatuh, dia jatuh ke tempat yang empuk.

Selain keamanan untuknya, saya juga harus memperhatikan keamanan diri saya sendiri. Saya harus sigap mencegah potensi terkilir atau cidera lain.

Kedua, saya juga harus mengingatkan K bahwa tidak semua anggota badan saya bisa menjadi tempat bermainnya. Misalnya kepala atau bagian vital lainnya. Meskipun begitu, beberapa kali wajah saya mendapat bonus tendangan kaki atau dengkulnya secara tak sengaja.

Hal ketiga yang saya harus perhatikan juga bahwa K akan bermain semacam itu hanya dengan saya, bapaknya. Kadang kala, saat saya sedang makan malam atau mencuci piring, dia tak sabar menunggu dan mencoba bermain seperti itu dengan ibunya.

Tentu itu tak saya izinkan. Permainan fisik saya batasi hanya dengan sesama lelaki.

Lalu ada batasan waktu. Saya harus membiasakan K untuk membatasi waktunya dalam melakukan segala aktivitas, termasuk bermain. Saya juga harus mengingatkannya bahwa saya juga perlu beristirahat, meskipun kadang alasan itu tak mudah diterima olehnya.

Kalau dia belum puas bermain, dia akan selalu merengek minta saya melanjutkan permainan.

The last but not least important adalah masalah kesehatan. Sebelum menjadi teman dan taman bermainnya, saya harus sudah membersihkan badan. Mengendarai sepeda motor sepanjang perjalanan pulang tentu akan membawa asap dan debu yang tak sehat untuk semuanya.

***

Saya percaya bahwa tak ada hal yang lebih menyenangkan untuk anak selain bisa bermain bersama orang tuanya dan sebaliknya bagi orang tua, bermain bersama anak seharusnya tak hanya menjadi kewajiban, tapi juga kebutuhan.

Dengan sering bermain bersama anak, saya bisa punya lebih banyak kesempatan untuk mengenal dan melihat pertumbuhan anak saya, baik pertumbuhan fisik maupun mental dan kecerdasannya.

Saya juga berkesempatan menanamkan apa yang saya tak ingin ia lakukan di rumah maupun di lingkungan yang lebih luas nanti, seperti lingkungan sekolah.

Misalnya saat kami bermain bola bersama, saya bisa mengajarkan bagaimana seharusnya sikapnya saat bermain bersama. Misalnya tak boleh berebutan, bergantian dan menghargai lawan mainnya.

Terakhir, dengan sering bermain bersama anak, saya bisa mencegahnya terlalu jauh bergantung kepada hiburan televisi apalagi hiburan yang tersedia di ponsel pintar dan membuatnya tetap aktif bergerak sekalipun di dalam rumah.

Sebagai tambahan, saat saya bermain bersama anak, istri saya memiliki waktu dan ruang yang lebih banyak untuk beraktivitas di dapur, memasak untuk kami semua. Sehingga semua mendapat keuntungan, kan?

Begitulah kira-kira.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Kayika Pushandaka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *