Sedikit Cerita Tentang Bupuh

Jangan tanya bapak, apa arti kata Bupuh. Bapak tak ingin bercerita tentang itu, tapi bagaimana gambaran Bupuh sepanjang yang bapak kenal.

Hai nak, kali ini bapak ingin bercerita sedikit tentang Bupuh, perempuan yang melahirkan bapak.

Iya, dia adalah nenekmu.

Bapak tak pernah tanya langsung kepadanya apa arti kata Bupuh, dan kenapa dia ingin dipanggil Bupuh oleh cucu-cucunya. Mungkin aunty Ajeng atau aunty Dyah yang tahu.

***

Hari ini, 27 April, bapak menulis cerita ini untuk merayakan hari kelahiran Bupuh, 65 tahun yang lalu.

Kalau boleh jujur, Bupuh tak selama hidupnya menjadi orang baik. Dia cuma selalu berusaha untuk melangkah di jalan yang benar. Tak jarang dia bisa tak terlalu peduli dengan perasaan orang lain di saat dia merasa benar.

Sebab apel tak pernah jauh jatuh dari pohonnya, maka bapak juga pernah menjadi orang seperti itu.

Satu sisi baik dari sikapnya itu adalah bahwa Bupuh adalah orang yang jujur, sekalipun itu seringkali tak menyenangkan untuk orang lain.

Maka lahirlah gambaran lain tentang Bupuh dari sikapnya itu, misalnya egois dan angkuh, terutama di mata beberapa orang yang tak menyukainya.

Bupuh juga orang yang tak pernah takut bersuara. Dia bicara tentang apa pun yang dia pikirkan. Bahkan kadang bapak berpikir, Bupuh terlalu banyak bicara.

Persis bapak!

Mungkin Tuhan juga sependapat dengan bapak. Tuhan membuatnya beristirahat bicara setelah penyakit kanker yang diidapnya semakin kronis dan merusak organ suara di lehernya.

***

Bupuh adalah perempuan yang tegas cenderung keras. Dulu pernah, di masa kecil, bapak adalah anak yang tak suka mandi. Bila orang lain masih berusaha membujuk bapak untuk mandi, jangan harap itu datang dari mulut Bupuh.

Bapak pernah diseret dari rumah tetangga sampai ke kamar mandi, tanpa peduli bapak berteriak sangat keras sehingga menjadi tontonan tetangga lainnya.

Punggung bapak juga sakit sekali karena harus bergesekan dengan tanah berbatu karena jalan di komplek rumah belum beraspal.

Sikapnya yang tegas juga diperkuat dengan hatinya yang tegar. Bapak tahu beberapa masalah yang pernah dialami Bupuh, termasuk sakit kanker yang dia derita lebih dari satu dekade.

Tak pernah sekali pun bapak mendengar Bupuh mengeluh.

Itu pula yang dia ajarkan kepada bapak. Tegar, jangan cengeng. Saat kecil, kalau bapak menangis, tak ada belas kasihan datang dari Bupuh.

Bapak hampir tak pernah berharap dia akan datang untuk membujuk bapak berhenti menangis. Dia cuma akan berlagak tak peduli, walaupun mungkin dia ingin sekali memeluk dan menenangkan bapak.

***

Tapi nak, sekalipun di awal tadi bapak bilang Bupuh tak selamanya baik, banyak hal baik yang dilakukannya untuk orang lain. Satu hal yang bapak ingat adalah Bupuh dulu aktif dengan kegiatan orang tua asuh.

Bapak pernah protes, kenapa harus mengasuh anak orang lain, padahal kita bukan orang dengan harta berlimpah.

Bupuh cuma menjawab, “Tak harus menjadi kaya raya untuk menolong orang lain”

Mungkin karena karmanya itu, selalu ada orang yang datang menolongnya saat dia kesulitan. Beberapa orang juga menyampaikan kebaikannya kepada bapak di hari kematian Bupuh.

***

Kali ini, segitu dulu cerita bapak tentangnya. Kapan-kapan bapak akan cerita hal lain tentangnya. Kamu bisa baca cerita lain tentang Bupuh di blog bapak.

Sekalipun kamu tak mengenalnya secara langsung, bapak mohon kamu akan berdoa untuknya, sekalipun itu hanya sekali dalam setahun di tanggal kelahirannya. Sebut namanya dalam doamu.

Maria Christina Sri Widji Utami.

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Kayika Pushandaka
[Total: 1   Average: 5/5]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *