Periode pandemi ini membuat banyak orang terkurung di rumah, termasuk kami bertiga.

Saya dan Becca masih ‘beruntung’ bisa keluar rumah saat mendapat tugas bekerja di kantor pada hari yang sudah dijadwalkan. Sementara K cuma bisa keluar rumah hanya bersama kami, untuk berjemur sebentar di pagi atau sore hari.

Saat kami harus ke kantor, K tidak keluar rumah seharian penuh.

Pada periode pra-pandemi, K biasanya keluar rumah bersama Bu Jun, pengasuhnya. Sekadar berjemur dan bermain di taman sebentar.

Saat weekend, pergi keluar rumah bersama kami, makan siang bersama atau beribadah di hari Minggu.

Berhubung kami tidak memiliki mobil pribadi, cuma sepeda motor butut peninggalan mendiang ibu saya, kami selalu menggunakan taksi kemana-mana. Kami tak memilih sepeda motor karena K masih terlalu kecil.

***

Belakangan K beberapa kali berujar, “K mau jalan-jalan naik taksi”

Kami mengerti, ia sudah sangat jenuh di rumah terus.

Tapi taksi juga tak sepenuhnya aman untuknya di masa sekarang. Kami tak tahu siapa penumpang sebelum kami.

Akhirnya saya dan Becca berpikir, apa ini waktunya kita berkeliling mengendarai sepeda motor bersama K.

Saya tak merekomendasikan ini kepada anda semua, selain karena tak sepenuhnya aman, juga melanggar aturan lalu-lintas.

Berpotensi membuat anda ditilang polisi.

Akhirnya kami memberanikan diri mengajak K berkeliling ke lingkungan sekitar tempat tinggal kami mengendarai sepeda motor.

K duduk di tengah, diapit saya dan Becca.

Tapi K lebih banyak diam. Seperti tak menikmati perjalanan.

Becca bilang, mungkin karena sudut pandangnya terbatas hanya ke kanan atau kiri, terhalang oleh badan saya yang ia peluk erat.

Tak leluasa melihat-lihat seperti saat menumpang taksi.

Akhirnya kami memutuskan untuk membeli ‘jok tambahan’ yang terbuat dari, entah, rotan atau jenis kayu lainnya, yang biasanya ditempatkan di bagian depan sepeda motor transmisi otomatis.

Anda bisa membayangkannya?

Psst, lagi-lagi kami tak menganjurkan ini. Apa yang kami lakukan melanggar aturan lalu-lintas.

Tapi kami tak punya pilihan, demi menjaga kesegaran pikiran K.

Akhirnya K bisa duduk di depan. Kali ini sudut pandangnya lebih luas.

Ia berceloteh banyak sepanjang perjalanan. Sayangnya kami tak terlalu bisa mendengarnya, suaranya ditelan deru kendaraan lain.

Apalagi ia juga memakai masker yang menutupi seluruh mulut dan hidungnya.

Kalau usilnya kumat, K akan pencet tombol klakson. Mengagetkan saya dan pengendara lainnya.

“Maaf pak, maaf bu” ujar saya merasa tak enak kepada pengendara lain.

Kami juga akan membelikan K sebuah helm. Sehingga perjalan kami, meskipun hanya di lingkungan sekitar, akan lebih aman untuknya.

Mungkin juga perjalanan kami berkeliling mengendarai sepeda motor akan menuju tempat yang lebih jauh. Kebetulan tempat tinggal kami diapit beberapa taman dan pusat kuliner.

Seperti Harapan Indah, Jakarta Garden City, Kelapa Gading dan Buaran.

Mungkin kami akan mencoba ke sana lain waktu, dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan orang.

Semoga kegiatan ini selalu aman untuk K dan tetap bisa menjaga pikiran dan tubuhnya tetap segar.

Ada rekomendasi kemana kami harus berkendara akhir pekan bersama K?

Digiprove sealCopyright secured by Digiprove © 2020 Kayika Pushandaka